Hidung Tiba-Tiba Mimisan, Jangan Langsung Mendongak! Ini Cara Menghentikannya dengan Benar

·

·

,

Hidung tiba-tiba mimisan saat beraktivitas tentu bisa membuat panik. Darah yang keluar dari salah satu atau kedua lubang hidung sering kali membuat seseorang spontan mendongakkan kepala agar darah berhenti mengalir. Padahal, kebiasaan ini justru perlu dihindari karena darah dapat mengalir ke tenggorokan dan tertelan.

Mimisan atau epistaksis merupakan kondisi ketika pembuluh darah di dalam hidung mengalami kerusakan sehingga menyebabkan perdarahan. Sebagian besar kasus mimisan tergolong ringan dan dapat ditangani dengan pertolongan pertama yang tepat. Namun, penting untuk mengetahui cara menghentikan mimisan dengan benar serta mengenali kondisi yang membutuhkan bantuan medis.

Mengapa Hidung Bisa Tiba-Tiba Mimisan?

Bagian dalam hidung memiliki banyak pembuluh darah kecil yang mudah mengalami iritasi. Ketika pembuluh darah tersebut pecah, darah dapat keluar melalui lubang hidung.

Mitrasehat menyebutkan ada beberapa faktor yang dapat memicu mimisan, di antaranya:

  • Udara kering yang membuat lapisan dalam hidung menjadi kering dan mudah terluka.
  • Kebiasaan mengorek hidung atau menggosoknya terlalu keras.
  • Bersin berulang kali atau membuang ingus dengan tekanan berlebihan.
  • Alergi dan iritasi pada hidung.
  • Benturan atau cedera pada hidung.
  • Penggunaan obat tertentu, terutama obat yang memengaruhi pembekuan darah.

Mimisan juga dapat terjadi tanpa penyebab yang jelas. Jika perdarahan berulang, berlangsung lama, atau disertai keluhan lain, pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui kemungkinan penyebabnya.

Cara Menghentikan Mimisan dengan Benar

Ketika mimisan terjadi, usahakan tetap tenang. Lakukan langkah pertolongan pertama berikut untuk membantu menghentikan perdarahan.

1. Duduk Tegak dan Condongkan Kepala ke Depan

Segera duduk dengan posisi tubuh tegak, kemudian condongkan kepala sedikit ke depan. Jangan berbaring atau mendongakkan kepala ke belakang.

Posisi ini membantu darah keluar melalui hidung, bukan mengalir ke tenggorokan. Jika darah masuk ke mulut, keluarkan dan jangan sengaja menelannya karena dapat memicu mual atau muntah.

2. Jepit Bagian Lunak Hidung

Gunakan ibu jari dan telunjuk untuk menjepit kedua sisi hidung pada bagian lunak, tepat di bawah tulang hidung. Hindari menekan bagian tulang yang keras karena tidak memberikan tekanan langsung pada area yang biasanya menjadi sumber perdarahan.

Pertahankan tekanan selama 10–15 menit tanpa melepaskan jepitan untuk memeriksa apakah darah sudah berhenti. Selama itu, bernapaslah melalui mulut.

Tekanan yang dilakukan secara konsisten membantu pembuluh darah membentuk bekuan untuk menghentikan perdarahan.

3. Jangan Memasukkan Tisu Terlalu Dalam

Hindari memasukkan tisu, kapas, atau benda lain ke dalam lubang hidung untuk menyumbat darah. Benda tersebut dapat menempel pada bekuan darah dan memicu perdarahan kembali ketika dilepaskan.

Jika diperlukan, gunakan tisu bersih hanya untuk menampung darah yang keluar dari hidung. Fokus utama tetap pada menjepit bagian lunak hidung dengan tekanan yang tepat.

4. Ulangi Tekanan Jika Darah Belum Berhenti

Apabila setelah 10–15 menit perdarahan masih berlangsung, lanjutkan pertolongan dengan menjepit hidung kembali selama sekitar 10–15 menit sambil tetap mencondongkan kepala ke depan.

Jika perdarahan tetap berlanjut setelah tekanan dilakukan dengan benar, segera cari pertolongan medis. Jangan menunda pemeriksaan jika darah keluar sangat banyak atau tubuh mulai terasa lemas dan pusing.

5. Beristirahat Setelah Mimisan Berhenti

Setelah darah berhenti, hindari mengorek hidung, membuang ingus dengan keras, membungkuk terlalu lama, serta melakukan aktivitas fisik berat selama sekitar 24 jam.

Kebiasaan tersebut dapat mengganggu bekuan darah yang terbentuk dan memicu mimisan kembali. Jika hidung terasa kering, tanyakan kepada apoteker atau dokter mengenai penggunaan semprotan saline atau gel pelembap hidung yang sesuai.

Kesalahan yang Harus Dihindari Saat Mimisan

Beberapa tindakan yang dianggap membantu ternyata dapat memperburuk keadaan. Berikut hal-hal yang sebaiknya tidak dilakukan:

  • Mendongakkan kepala. Darah dapat mengalir ke tenggorokan dan menyebabkan mual atau muntah.
  • Berbaring telentang. Posisi ini tidak membantu mengarahkan darah keluar melalui hidung.
  • Melepas jepitan terlalu cepat. Tekanan yang terputus-putus dapat mengganggu pembentukan bekuan darah.
  • Mengorek atau meniup hidung dengan keras. Tindakan ini dapat melukai pembuluh darah kembali.
  • Memasukkan benda ke dalam hidung. Tisu atau kapas yang dimasukkan terlalu dalam dapat menempel pada bekuan darah.
Baca juga  Sering Lemas, Haus, dan Buang Air Kecil? Kenali Kaitan Gejala Ini dengan Diabetes

Mengetahui kesalahan tersebut penting agar pertolongan pertama mimisan dilakukan secara aman dan efektif.

Kapan Mimisan Harus Diperiksa ke Dokter?

Tidak semua mimisan membutuhkan penanganan darurat. Namun, segera cari bantuan medis jika mimisan sangat deras, menyebabkan kesulitan bernapas, atau disertai pusing berat, kelemahan, maupun tanda kehilangan darah yang signifikan.

Pemeriksaan juga diperlukan apabila perdarahan tidak berhenti setelah sekitar 20 menit meskipun tekanan sudah dilakukan dengan benar, terutama jika darah keluar cukup banyak.

Jangan menunda pemeriksaan jika mimisan terjadi setelah benturan keras pada kepala atau wajah, bentuk hidung berubah, atau muncul gejala lain yang mengarah pada cedera serius.

Orang yang mengonsumsi obat pengencer darah atau memiliki gangguan pembekuan darah juga perlu lebih berhati-hati. Jika mimisan sering berulang tanpa sebab yang jelas, konsultasikan dengan dokter untuk mengetahui pemicunya.

Tips Mencegah Mimisan Berulang

Meskipun tidak semua mimisan dapat dicegah, beberapa kebiasaan berikut dapat membantu mengurangi risikonya:

  • Jaga kelembapan udara di dalam ruangan, terutama saat menggunakan pendingin udara.
  • Gunakan semprotan saline untuk membantu melembapkan hidung jika diperlukan.
  • Hindari mengorek hidung atau membuang ingus terlalu keras.
  • Tangani alergi sesuai anjuran tenaga kesehatan.
  • Hindari memasukkan benda asing ke dalam lubang hidung.
  • Gunakan pelindung yang sesuai saat melakukan aktivitas berisiko menyebabkan benturan pada wajah.

Jika mimisan terus berulang meskipun kebiasaan tersebut sudah diperbaiki, pemeriksaan dokter dapat membantu menentukan penyebab dan penanganan yang sesuai.

FAQ Seputar Mimisan

1. Apakah mimisan boleh ditangani dengan mendongakkan kepala?

Tidak. Kepala sebaiknya sedikit condong ke depan agar darah tidak mengalir ke tenggorokan. Mendongakkan kepala tidak menghentikan sumber perdarahan secara langsung.

2. Berapa lama hidung harus dijepit saat mimisan?

Jepit bagian lunak hidung selama 10–15 menit tanpa melepaskannya untuk memeriksa perdarahan. Jika darah belum berhenti, ulangi tekanan dan cari bantuan medis jika perdarahan tetap berlanjut.

3. Apakah mimisan berbahaya?

Sebagian besar mimisan ringan dapat berhenti dengan pertolongan pertama. Namun, perdarahan yang sangat deras, berlangsung lama, terjadi setelah cedera serius, atau disertai pusing berat membutuhkan pemeriksaan medis.

4. Apakah mimisan bisa disebabkan oleh tekanan darah tinggi?

Tekanan darah tinggi dapat berkaitan dengan penanganan mimisan yang lebih sulit pada sebagian orang, tetapi tidak tepat menyimpulkan bahwa setiap mimisan disebabkan oleh hipertensi. Penyebab mimisan perlu dinilai berdasarkan kondisi dan riwayat kesehatan seseorang.

5. Apa yang harus dilakukan jika anak mengalami mimisan?

Tenangkan anak, dudukkan dengan posisi tegak dan kepala sedikit condong ke depan, lalu jepit bagian lunak hidung selama 10–15 menit. Bantu anak bernapas melalui mulut dan jangan biarkan mereka mendongakkan kepala. Jika perdarahan deras, tidak berhenti, atau anak tampak lemas, segera cari pertolongan medis.

Kesimpulan

Hidung tiba-tiba mimisan tidak selalu menandakan masalah kesehatan serius, tetapi pertolongan pertama yang benar tetap penting. Hindari mendongakkan kepala. Sebaliknya, duduklah dengan posisi tegak, condongkan kepala sedikit ke depan, lalu jepit bagian lunak hidung selama 10–15 menit tanpa terputus.

Kenali juga tanda bahaya seperti perdarahan yang sangat deras, mimisan berkepanjangan, pusing berat, dan perdarahan setelah cedera serius. Dengan penanganan yang tepat, mimisan ringan umumnya dapat dikendalikan dan risiko komplikasi dapat dikurangi.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *